Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Angka Gizi Buruk DIY Masih Tinggi

Angka Gizi Buruk DIY Masih Tinggi

antarafoto-com.jpg

Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta mengakui angka anak penderita gizi buruk di daerah setempat masih tergolong tinggi meski masih di bawah angka nasional.Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY Endang Pamungkasiwi mengatakan, angka kasus gizi buruk sesuai data terakhir tahun 2015 mencapai 870 anak atau 0,5 persen dari seluruh anak atau balita di DIY. "Meski masih di bawah target nasional 10 persen, penurunan angkanya tidak banyak berubah dari tahun-tahun sebelumnya," kata Endang. Menurutnya, sebanyak 870 anak penderita gizi buruk tersebut memiliki berat serta tinggi badan rendah  dari angka normal. Sebanyak 168 anak atau 0,1 persen di antaranya masuk kategori sangat kurus dan 3,4 persen masuk kategori sangat pendek. "Anak sangat kurus sudah langsung mendapat perawatan di puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya," kata Endang. Berdasarkan sebarannya, paling banyak anak penderita gizi buruk di kabupaten Kulonprogo mencapai 0,81 persen. Di Kota Yogyakarta 0,69 persen, Gunung Kidul 0,53 persen, Sleman 0,4 persen, dan Bantul 0,38 persen. Kasus gizi buruk, menurut Endang, tidak selalu berkorelasi dengan kondisi perekonomian suatu daerah. Kendati pada 2014, Pemda DIY mengumumkan angka kemiskinan menurun, kenyataannya jumlah kasus gizi buruk justru naik mencapai angka 0,51 persen. "Kita ingat tahun 2014 ketersediaan pangan di DIY dikatakan surplus, tapi justru angka gizi buruk naik," katanya. Endang menjelaskan, munculnya kasus gizi buruk dipicu berbagai faktor. Selain disebabkan persoalan ekonomi, juga oleh pergeseran pola makan masyarakat khususnya perempuan sebagai calon ibu. Misalnya, jika dahulu masyarakat lebih banyak makan di rumah, sekarang lebih banyak makan di luar rumah, karena tuntutan pekerjaan atau kondisi lainnya. "Selain tidak lagi memperhatikan faktor gizi, membeli makanan di restoran atau rumah makan juga tentu mempertimbangkan kemampuan ekonomi masyarakat untuk membeli," kata dia. Berdasarkan hasil survei Konsumsi Makanan Individu pada 2014, kelompok usia produktif antara 15-55 tahun di DIY terindikasi kekurangan asupan gizi. Sementara, 46 persen dari kelompok produktif tersebut adalah perempuan. "Ketika modal dasarnya asupan gizi calon ibu sebelum menikah kurang, maka ketika menikah dan melahirkan berisiko anaknya kurang gizi atau menderita cacat bawaan," kata dia. Untuk terus menekan angka gizi buruk serta mencapai target, Pemda DIY mencanangkan penurunan angka hingga 0,48 persen pada 2017. Dinkes DIY akan terus meningkatkan sosialisasi program 1.000 hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu  270 hari di dalam kandungan dan 730 hari setelah lahir. Program ini merupakan momen penting bagi kualitas pertumbuhan anak. "Jadi pada masa emas itu, ibu semaksimal mungkin diupayakan mendapatkan asupan gizi yang cukup," kata dia. Untuk mengoptimalkan program tersebut, Endang juga mendorong kaum ibu agar memprioritaskan datang ke pos pelayanan kesehatan terpadu (posyandu). Saat ini tingkat kunjungan ke Posyandu cukup rendah jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. "Ibu yang menimbangkan anak balitanya ke posyandu hingga saat ini masih sekitar 79 persen atau dibawah angka nasional yang mencapai 85 persen. Padahal, indikasi utama gizi buruk atau gizi kurang antara lain dapat diketahui dari tingkat berat badan balita, “ kata Endang. (Sumber : jogya. antaranews.com)

Peringatan Hari Perawat Internasional 12 Mei 2016

Peringatan Hari Perawat Internasional 12 Mei 2016

Perhatikan Pemberian Cairan, Agar  Anak Tidak Dehidrasi Saat Diare

Perhatikan Pemberian Cairan, Agar Anak Tidak Dehidrasi Saat Diare