Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Permasalahan Pada Ibu Bisa Sebabkan Anak  Gagal Tumbuh

Permasalahan Pada Ibu Bisa Sebabkan Anak  Gagal Tumbuh

               Mungkin kita pernah melihat di pusat layanan kesehatan, ibu masih sangat muda menggendong bayi sementara masih ada dua anaknya lagi yang masih kecil-kecil berjalan di samping ibunya. Ada juga ibu muda yang tengah hamil tapi tubuhnya sangat kurus. Ibu-ibu ini bisa jadi berisiko mempunyai anak yang gagal tumbuh atau stunting. Mengapa bisa demikian?

           Stunting atau tidaknya seorang anak  tergantung dari kondisi ibunya ketika hamil, terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan dan dimulai sejak masa konsepsi seorang ibu. Pada masa ini merupakan masa emas tumbuh kembang seorang anak.

          Awal trimester kehamilan atau sebelum 20 minggu usia kehamilan ibu merupakan saat terjadinya proses terbentuknya cikal bakal otak dan fisik seorang anak. Maka itu, ibu harus dalam kondisi optimal dan mendapatkan asupan gizi yang baik. Namun, kondisi optimal tidaklah mudah ditemui pada semua ibu. Ada permasalahan yang mungkin dialami sejak masa konsepsi, kehamilan, dan selanjutnya yang dapat menyebabkan ibu melahirkan bayi yang gagal tumbuh atau stunting.

          Menurut ahli gizi Atmarita, ada beberapa faktor pada ibu yang menyebabkan anak bisa stunting, antara lain masalah pernikahannya di usia yang sangat muda, tingkat pendidikan ibu yang rendah, serta masalah sosial ekonomi seperti kemiskinan yang dihadapi.

         Angka prevalensi anak stunting cukup tinggi sekitar 42,8% pada ibu yang menikah di usia 15-19 tahun. Sementara pada ibu yang menikah di usia 25-29 tahun angka prevalensinya sekitar 34,5 %. Selain itu, ada juga perbedaan angka stunting sekitar 10 % dari ibu yang mempunyai tinggi badan kurang dari 150 cm dibanding  ibu dengan tinggi badan 150 cm.

          Ibu yang menikah di usia sangat muda menyebabkan ia mempunyai masa reproduksi yang panjang. Artinya, ibu berpeluang mempunyai banyak anak dan jarak kelahiran anak juga dekat. Ketika tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari melahirkan, mungkin sudah hamil lagi. Akibatnya tentu tidak baik pula bagi kondisi kesehatan ibu. Juga anaknya menjadi tidak terurus. Belum lagi masalah ekonomi semisal kemiskinan yang membuat kondisi gizi ibupun sulit terpenuhi.

         Selain itu, masalah pendidikan ibu juga berpengaruh pada angka prevalensi stunting. Pada ibu dengan pendidikan  rendah angka kejadian anak stunting sebesar 42,7 % sedangkan pada ibu dengan pendidikan tinggi, dalam hal ini mulai tingkat SMP ke atas sekitar 33,8 %. Jadi, sebenarnya, jika tingkat pendidikan ibu tinggi maka kejadian anak dengan kondisi stunting dapat dicegah.

            Dampak anak stunting tentu berpengaruh pada tingkat kecerdasannya yang kurang optimal. Secara fisik, untuk ukuran tinggi badannya juga akan tampak jelas terlihat pada usia 18 tahun. Pada usia ini kemungkinan pertumbuhan anak sudah terhenti, sehingga anak tidak akan mencapai tinggi optimal. Bila menurut standar WHO, untuk laki-laki tinggi badan optimal 175 cm dan untuk perempuan 162 cm. Sementara umumnya di Indonesia, untuk ukuran tinggi badan laki-laki 162 cm sedangkan untuk perempuan sekitar 151 cm.

 Ibu Perlu Lakukan Hal Ini Jika Diketahui Hamil

Ibu Perlu Lakukan Hal Ini Jika Diketahui Hamil

 Kok, Berat Badan Bayi Turun?    

Kok, Berat Badan Bayi Turun?