Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Cara Atasi Kebiasaan Anak Makan Junk Food

Cara Atasi Kebiasaan Anak Makan Junk Food

                Jaman sekarang hampir semua balita kenal makanan junk food dengan menu-menu makanan seperti yang tersedia di restoran makanan cepat saji. Makanan yang berlemak atau berkalori tinggi, dengan rasa yang gurih maupun manis-manis. Anak cenderung suka dengan rasa makanan seperti itu. Hal ini yang membuat anak memiliki preferensi rasa serta selera pada junk food dan menjadi kebiasaan.  Sementara orangtua sulit untuk meminta anak mau mengonsumsi makanan sehat dan bergizi yang dimasak dan disediakan orangtua. Bagaimana jika sudah seperti itu?

              Kebiasaan makan pada anak sebetulnya terbentuk dari usia-usia sebelumnya. Anak senang junk food bisa jadi karena pengaruh orangtua yang mungkin juga suka junk food. Selain itu, bisa karena masalah kepraktisan. Orangtua memilihkan anaknya junk food karena belum sempat membuatkan makanan anaknya sementara junk food mudah dan cepat diperoleh. Biasanya masalah kepraktisan juga menjadi pilihan orangtua bagi si kecil terutama ketika sedang berada di luar rumah.

               Boleh saja mengonsumsi junk food, namun harus dibatasi, misalnya sekali saja dalam jangka waktu tertentu. Hindari konsumsi junk food  yang berlebihan. Jangan jadikan konsumsi junk food sebagai suatu kebiasaan karena tidak menyehatkan.

               Junk food yang mengandung lemak tinggi ini tidak mengandung gizi seimbang, bahkan cenderung rendah gizi. Biasanya rendah serat, kurang vitamin dan mineralnya. Rendahnya kandungan gizi bisa membuat anak mengalami kekurangan gizi dan berdampak pada tumbuh kembang anak yang tidak optimal. Selain itu, berdampak pada kekebalan tubuh anak yang rendah sehingga membuatnya rentan terhadap penyakit atau mudah sakit.

             Kandungan lemak yang tinggi membuat anak berisiko mengalami obesitas. Selain itu, di usia dewasanya berisiko pula pada beberapa penyakit seperti jantung, stroke, dan diabetes. Alasan kesehatan itulah yang seharusnya menjadi perhatian orangtua untuk tidak membiarkan anaknya sering-sering atau berlebihan dalam mengonsumsi junk food.

           Untuk mengembalikan anak pada pola makan yang sehat memang tidaklah mudah. Peran orangtua sangat penting. Mulailah dengan memberikan contoh dengan tidak mengonsumsi junk food. Sediakan anak kebutuhan makan sehat sehari-hari. Batasi anak pada konsumsi makanan yang menggunakan banyak minyak, garam, maupun gula. Sering-seringlah melakukan makan bersama keluarga.

               Ajak dan libatkan anak ketika menyusun menu dengan mengajarkannya pada pilihan makanan-makanan yang sehat. Ceritakan di saat waktu luang atau setiap ada kesempatan mengenai pentingnya makan sehat bagi kesehatannya. Gunakan bahasa yang mudah dipahami anak sesuai dengan usianya. Jangan pernah lelah untuk terus berupaya dan dengan cara yang kreatif dalam mengolah makanan sehingga anak perlahan dapat terlepas dari ketergantungan pada junk food.

 

Payudara Tak Kencang, Apakah Tanda ASI Sedikit?

Payudara Tak Kencang, Apakah Tanda ASI Sedikit?

Masa Penting Pembentukan Otak Anak

Masa Penting Pembentukan Otak Anak