Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Peringatan Hari Gizi Nasional ke-58 tahun 2018: Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi

Peringatan Hari Gizi Nasional ke-58 tahun 2018: Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi

             Gizi merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kesehatan, tumbuh kembang dan kecerdasan anak di setiap tahapan kehidupannya. Sejak anak masih dalam kandungan, saat dilahirkan, masa balita, usia sekolah, remaja hingga menjadi calon ibu dan hamil.  

             Jika anak mengalami kekurangan gizi kronis sejak masa kandungan hingga lahir, anak akan berpotensi mengalami gagal tumbuh atau stanting. Kondisi stunting di Indonesia dialami 37% atau hampir 9 juta anak Indonesia.

             Stunting akan menghambat perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Anak yang stanting memiliki kesehatan tubuh yang kurang baik karena mudah sakit-sakitan, sehingga di usia sekolah anak tidak bisa belajar dengan baik dan sulit berprestasi.

             Di usia dewasa, anak tumbuh menjadi dewasa yang tidak produktif dan tidak dapat bersaing. Penghasilan di usia dewasanya sekitar 2 persen lebih rendah dari anak yang tidak stanting. Selain itu, anak stanting berpotensi mengalami penyakit berbahaya tidak menular. Hal ini tentu akan menjadi beban ekonomi negara. Produk domestik bruto negara bisa turun sampai sekitar 3 %. Kerugian negara akibat stanting ini sebesar 300 triliun per tahun.

            Selain masalah gizi, stanting juga terkait dengan masalah higiene dan sanitasi, seperti perilaku cuci tangan pakai sabun dan tidak buang air besar sembarangan. Masalah sanitasi ini bisa menyebabkan terjadinya kontak langsung maupun tidak langsung dengan kuman penyebab penyakit, seperti diare dan cacingan pada anak.

            Balita yang terkena diare ataupun cacingan akan memengaruhi kesehatan saluran cerna. Anak menjadi tidak maksimal dalam menyerap zat-zat gizi yang masuk ke tubuhnya. Akibatnya, zat-zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan fisik dan otak menjadi terganggu.

            Maka itu, kondisi stunting ini harus dicegah dengan memastikan kecukupan gizi terutama dimulai sejak periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Periode ini merupakan dasar bagi peletakan gizi anak untuk usia-usia selanjutnya.

              Untuk memenuhi kecukupan gizi periode 1000 HPK dilakukan sejak ibu hamil, ibu menyusui dengan pemberian ASI pada bayi usia 6 bulan pertama. Setelah itu pemberian makanan pendamping ASI yang bergizi dan pemberian ASI tetap dilanjutkan hingga usia anak 2 tahun.

             Upaya selain gizi yang dilakukan bagi kesehatan anak  yaitu dengan pemberian imunisasi guna melindungi anak dari berbagai penyakit infeksi berbahaya. Juga memperhatikan masalah kebersihan diri dan lingkungan, seperti mencuci tangan pakai sabun, buang air besar tidak sembarangan, serta sanitasi lingkungan rumah yang baik.  Bila semua dilakukan, maka anak Indonesia dapat terhindar dari stunting. Anak dapat tumbuh menjadi cerdas, kreatif, serta produktif.

 Ini Loh, Satu Porsi Isi Piring Makan Si Kecil

Ini Loh, Satu Porsi Isi Piring Makan Si Kecil

Sudahkah Terapkan Gizi Seimbang?

Sudahkah Terapkan Gizi Seimbang?