Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Bedakan Sering Buang Air Besar dengan Diare pada Bayi

Bedakan Sering Buang Air Besar dengan Diare pada Bayi

            Bayi usia di bawah 6 bulan biasanya mengalami buang air besar (BAB) yang lebih sering. Bentuk tinja pada bayi usia awal ini berupa cairan/encer. Mungkin ada ibu yang kemudian menduga bayinya mengalami diare. Ibu tak perlu panik dulu. Bisa jadi BAB bayi seperti itu wajar, bukan karena infeksi yang menyebabkannya diare.

              Bayi yang memeroleh ASI sebagai makanan utama memang sering mengalami BAB. Pada setiap bayi frekuensi BAB-nya dalam sehari bisa berbeda-beda. Paling banyak dalam sehari biasanya 7 kali. Sementara pada bayi yang tidak mengonsumsi ASI tapi mengonsumsi susu formula, frekuensi BAB-nya lebih sedikit. Sehari bisa 3-4 kali atau bahkan jarang. Karena organ pencernaan bayi tidak bisa mencerna susu formula semudah ASI.

             Meski bayi sering BAB, tetap harus diperhatikan berat badannya pula. Jika bayi sering BAB dengan frekuensi normal dan berat badannya bertambah sesuai usia seperti yang tertera pada kartu pertumbuhan KMS, berarti tak masalah. Bayi dapat menyerap zat gizi yang ada pada ASI.

            Hal yang perlu ibu waspadai adalah jika frekuensi BAB bayi lebih dari 7 kali atau lebih dalam sehari, bayi tampak rewel dan tak nyaman. Jika ditemui tanda seperti itu, bisa jadi memang bayi mengalami diare. Penyebabnya bisa berbagai kemungkinan. Masalah utama biasanya karena faktor kebersihan yang kurang terjaga baik. Misalnya, ibu kurang memerhatikan kebersihan dirinya, tidak mencuci tangan sebelum menyusui, tidak pernah membersihkan puting payudara, dan lain-lain. Pada bayi yang tidak mengonsumsi ASI tetapi susu formula, diare yang terjadi selain karena faktor kebersihan juga kemungkinan lain karena mengalami alergi susu sapi atau tidak cocok dengan susu formulanya.

            Jika memang ibu merasa curiga bayinya mengalami diare, maka tetap berikan ASI. Bagi bayi yang memeroleh susu formula sebaiknya dihentikan dulu penggunaan susu formulanya untuk sementara waktu. Sebaiknya bawa anak ke dokter dan konsultasikan sehingga mendapatkan penanganan diare dengan cepat dan tepat.

 

  Siasati Anak yang Tak Suka Sayur

  Siasati Anak yang Tak Suka Sayur

Pilihan Pangan Sumber Kalsium Selain Susu

Pilihan Pangan Sumber Kalsium Selain Susu