Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Mengenal Relaktasi atau Menyusui Kembali

Mengenal Relaktasi atau Menyusui Kembali

Mengenal Relaktasi:

Tahun lalu, pemerintah sudah mengatakan bahwa angka stanting sudah mulai menurun dari 32.7 persen sesuai data Riskesdas 2013 ke 33.6 persen. Namun, kita masih punya kesempatan untuk melakukan yang lebih banyak agar angka stanting terus menurun sampai tidak ada lagi.

Melalui Kampanye Gizi Nasional (KGN), Gizi Tinggi Prestasi terus menyebarkan informasi tentang upaya preventif dalam mencegah stanting di 1000 Hari Pertama Kehidupan. Salah satunya adalah pemberian ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan, dan diteruskan dengan pemberian MPASI (makanan pendamping ASI) yang bertahap sampai bayi berusia 2 tahun. Mengapa ASI itu penting? Semua kandungan gizi yang dibutuhkan bayi sudah ada di ASI sehingga bayi tidak perlu mengonsumsi apapun selain ASI saja. Contohnya, cairan ASI pertama yang disebut kolostrum bersifat sebagai cairan yang paling penting di awal hidupnya dan kolostrum juga sering disebut sebagai vaksin pertama bayi.

Walaupun tidak ada hubungan langsung antara menyusui dan stanting, ASI eksklusif tetaplah penting untuk diperjuangkan. Namun, terkadang masyarakat suka melupakan bahwa menyusui bukan hanya tanggung jawab ibu sendiri. Pemberian ASI eksklusif yang lancar juga membutuhkan dukungan kita semua, termasuk keluarga dan pemerintah. Dalam pemberian ASI, ada satu hormon yang akan memperlancar produksi ASI yaitu oksitosin atau yang sering disebut hormon kasih sayang . Oksitosin ini akan keluar jika ada skin-to-skin contact antara bayi dan ibu, dan juga saat ibu merasa bahagia.

Sayangnya, terkadang para ibu tidak dikelilingi pihak dan juga suasana yang mendukung.

Memang ada Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI eksklusif yang menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif melibatkan peran iu, lingkungan, dunia kerja dan tentu saja pemerintah. Tetapi, ibu yang bekerja juga terkadang belum bisa menyiapkan ASI karena fasilitas ruang laktasi yang terkadang masih belum ada di perkantoran. Selain itu, dukungan yang kurang dari keluarga juga bisa membuat ibu kurang percaya diri sehingga ASI tidak keluar. Dan akhirnya, ibu beralih ke susu formula sampai bayi berusia 6 bulan.

Untuk artikel ini, kami dari Gizi Tinggi Prestasi ingin mengenalkan relaktasi. Relaktasi ini adalah proses bagaiamana ibu yang telah berhenti atau tidak menyusui dapat mengeluarkan dan memproduksi ASI kembali. Relaktasi ini dapat diusahakan dengan merangsang putting dan pengeluaran ASI.

Rangsangan putting didapatkan melalui hisapan bayi atau anak yang lebih besar, atau memerah ASI dengan tangan dan/atau pompa. Proses relaktasi ini biasanya memerlukan waktu, dapat beberapa hari atau bahkan beberapa minggu. Oleh karena itu, ibu tetap harus mendapatkan dukung moril, selain itu asupan makanan yang seimbang, serta dilindungi dari kondisi stress.

Jadi, berikut adalah langkah demi langkah melakukan relaktasi, baik untuk ibu yang ingin lagi menyusui atau ibu yang sudah menemukan kepercayaan diri yang baru jika selama ini hanya memberikan susu formula kepada sang buah hati.

1) Duduk nyaman, gendong bayi dengan jarak dan posisi yang tepat terhadap puting payudara. Pastikan bayi pada posisi nyaman.

2) Coba susui setiap 2 jam sekali, atau paling tidak 10 kali dalam 24 jam.

3) Susui bayi setiap kali terlihat lapar. Biarkan dia mengisap puting payudara selama kurang-lebih 30 menit. Lamanya si kecil mengisap payudara dapat ditingkatkan bertahap mulai dari 15 menit, 20 menit, dan seterusnya.

4) Upayakan Anda selalu bersama bayi pada malam hari, yakni ketika hormon prolaktin (pengatur produksi ASI) sedang tinggi kadarnya.

5) Sebagai langkah awal, Anda dapat memberi susu formula dengan volume sesuai kebutuhan berdasarkan berat badan bayi, atau dalam jumlah yang sama seperti yang biasa dikonsumsi sebelumnya.

6) Setelah ASI mulai keluar sedikit, kurangi porsi susu formula sebanyak 30-60 ml sehari.

7) Bila sebelum relaktasi bayi masih menyusu sesekali, produksi ASI saat relaktasi biasanya meningkat kembali dalam beberapa hari. Tapi bila bayi sudah berhenti menyusu, mungkin diperlukan beberapa minggu untuk dapat menghasilkan ASI kembali.

8) Relaktasi lebih mudah dan cepat bila bayi masih berumur kurang dari 3 bulan, dibandingkan bila bayi sudah berumur lebih dari 6 bulan. Namun, relaktasi dapat dilakukan pada bayi usia berapa pun.

Sumber: IDAI dan Ayahbunda

Haruskah ada Pantangan Makanan untuk Ibu Hamil?

Haruskah ada Pantangan Makanan untuk Ibu Hamil?

Arisan Jamban, Inisatif Warga Desa Air Hitam untuk Cegah Stanting dan Bebas BABS

Arisan Jamban, Inisatif Warga Desa Air Hitam untuk Cegah Stanting dan Bebas BABS