Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

   Hindari Anak dari Terkena Wabah Difteria

   Hindari Anak dari Terkena Wabah Difteria

              Penyakit yang cukup lama jarang terdengar, kini muncul dengan kejadian luar biasa. Kementerian kesehatan mencatat sejak Januari hingga November 2017 terjadi 593 kasus dengan kematian mencapai 32 kasus.  Kasus difteria ini terjadi di 95 kabupaten-kota di 20 provinsi. Kasus ini ditemukan pada anak paling muda usia 3,5 tahun dan yang tertua usia 45 tahun. Sekitar 66 % yang terkena difteria ini karena tidak diimunisasi.

             Nah, bagaimana cara orangtua mengenali penyakit difteria ini?

            Penyebab difteria yaitu bakteri Corynebacterium diphteriae. Orang bisa tertular difteria melalui udara seperti batuk atau bersin. Penyakit ini mudah sekali menular dan bagian tubuh yang diserang adalah saluran napas bagian atas.

           Paling sering difteria menyerang anak yang belum diimunisasi DTP (Difteria, Tetanus, Perusis). Umumnya yang terkena adalah anak usia di bawah 15 tahun. Gejala penyakitnya yaitu

-       Demam

-       Pembengkakan pada amandel (tonsil)

-       Ada tampak selaput putih kotor yang semakin lama membesar dan menutupi jalan napas, sehingga napas berbunyi dan sesak napas.

-       Leher membengkak seperti leher sapi.

        Difteria bisa menyebabkan kematiani karena jalan napas tersumbat oleh selaput putih kotor yang semakin lama membesar. Selain itu. bisa karena racun yang dikeluarkan oleh kuman difteria mengenai otot jantung. Akibatnya, jantung tidak dapat berdenyut normal dan jantung gagal memompa darah.

        Racun yang dikeluarkan kuman difteria juga bisa mengenai saraf sehingga menyebabkan suara sengau, sering tersedak, dan kelumpuhan tangan dan kaki.

            Lantas bagaimana mencegahnya? Lakukan vaksinasi Difteria, Tetanus, Pertusis pada anak. Gunakan masker atau penutup hidung jika sedang batuk pilek atau sedang dalam kondisi tubuh sedang lemah dan ketika berada di keramaian.

 

 

(Sumber : Buku Panduan Imunisasi Anak – Satgas Imunisasi PP IDAI)

 

 

Mengapa Anak Bisa Terkena Difteri?

Mengapa Anak Bisa Terkena Difteri?

Anak Bisa Kurang Gizi karena Cacingan

Anak Bisa Kurang Gizi karena Cacingan