Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Mengapa Anak Bisa Terkena Difteri?

Mengapa Anak Bisa Terkena Difteri?

                Difteri merupakan salah satu penyakit infeksi yang sebetulnya bisa dicegah. Namun, kenyataannya, kini muncul kasus difteri dengan kejadian luar biasa. Gejala difteri dapat dikenali dari adanya demam, sakit menelan, pembengkakan pada amandel (tonsil), ada selaput putih kotor yang semakin lama meluas dan menutupi jalan napas, serta leher membengkak. Mengapa, kini kemunculan penyakit difteri ini menyerang banyak anak? Apa yang menjadi penyebabnya?

             Sebetulnya, kemunculan suatu penyakit infeksi  memang bisa terjadi kapanpun. Karena lingkungan di sekeliling kita tidak steril dari kuman penyebab penyakit. Kuman penyakit bisa masuk ke dalam tubuh dengan berbagai cara, apakah lewat udara, makanan, dan lain-lain. Kuman dapat menyerang anggota tubuh manapun sehingga membuat orang jadi jatuh sakit.

               Umumnya, kuman menyerang seseorang yang dalam kondisi tubuh lemah, daya tahan tubuh yang kurang baik, atau tidak mempunyai kekebalan tubuh. Penularan dari satu orang yang terkena penyakit kepada orang lain sangat dimungkinkan. Karena adanya mobilitas orang dari satu tempat ke tempat lain, sehingga kuman dapat ikut berpindah sehingga area penularan menjadi lebih luas lagi.

             Kuman yang ada pada tubuh sebetulnya bisa saja tidak sampai menimbulkan penyakit infeksi. Karena kuman tersebut dapat dihadang oleh tubuh. Ini bisa terjadi jika kondisi tubuh seseorang kuat dan mempunyai daya tahan serta kekebalan tubuh. Nah, dari mana daya tahan atau kekebalan tubuh ini dapat diperoleh terutama pada anak?

             Sejak bayi lahir hingga usianya 6 bulan, sebetulnya anak memiliki kekebalan yang diwariskan dari ibunya. Ini merupakan kekebalan alamiah. Namun seiring bertambah usia anak, kekebalan tubuhnya akan berkurang dan menghilang. Sehingga selanjutnya kekebalan tubuh ini harus dibuat agar kadar kekebalannya bisa berlangsung lebih lama. Caranya yaitu dengan pemberian imunisasi.

           Tubuh dimasukkan bibit penyakit yang sudah dilemahkan atau dimatikan, yang disebut dengan vaksin.  Vaksin ini akan merangsang tubuh agar mempunyai zat antibodi (zat kekebalan) terhadap penyakit tersebut. Pemberian imunisasi pada anak dilakukan secara berkala pada umur-umur tertentu, sehingga anak mempunyai kekebalan dasar dan kadar antibodi juga bertahan dalam jangka waktu lama.

       Anak yang sejak kecil telah diimunisasi lengkap akan jarang mengalami sakit. Karena tubuhnya telah menerima berbagai jenis kekebalan dari penyakit yang berbeda-beda. Tubuh dapat menangkal jenis infeksi yang berbeda pula. Jadi, anak kebal terhadap beberapa penyakit tertentu. Kekebalan yang dimiliki anak ini akan memengaruhi daya tahan tubuhnya di usia-usia selanjutnya.

              Hanya saja, masih banyak orangtua yang tidak memberikan imunisasi pada anaknya. Seringkali orangtua merasa khawatir berlebihan akan efek samping serta dampak imunisasi. Padahal, dibandingkan dengan dampak dan efek samping imunisasi, lebih sangat berbahaya bila anak terkena penyakitnya. Karena bisa berakibat fatal pada kematian.

             Akibat tidak diberikannya imunisasi, anak menjadi rentan dan tidak mempunyai daya tahan atau kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit infeksi. Jika terkena kuman penyebab penyakit, maka anak menjadi sakit dan bisa berakibat fatal. Hal ini yang terjadi pada kasus kejadian luar biasa difteri. Kasus difteri yang ditemui pada anak, sekitar 66 persen dialami pada anak yang tidak diimunisasi. Hal ini yang perlu disadari para orangtua bahwa penting mencegah penyakit pada anak. Imunisasi merupakan pilihan terbaik untuk mencegah anak terkena penyakit infeksi termasuk difteri.

Yuk, Dilihat Lagi Jadwal Imunisasi DTP Si Kecil!

Yuk, Dilihat Lagi Jadwal Imunisasi DTP Si Kecil!

   Hindari Anak dari Terkena Wabah Difteria

   Hindari Anak dari Terkena Wabah Difteria