Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

 Ibu Nikah di Usia Sangat Muda, Anak Berisiko Stanting

Ibu Nikah di Usia Sangat Muda, Anak Berisiko Stanting

            Pernikahan usia muda (remaja) sangat berisiko, anak lahir dengan stanting, yaitu kondisi anak dengan tinggi badan kurang dibanding usianya. Ini karena kekurangan gizi kronis. Bila melihat batasan usia menikah dalam UU Perkawinan No 1 tahun 1974, bagi anak laki-laki berusia 19 tahun dan perempuan berusia 16 tahun. Pernikahan anak khususnya di bawah usia 18 tahun berdasarkan data Biro Pusat Statistik tahun 2015 ada sebesar 23 persen. Angka yang lumayan cukup banyak.

                Untuk batas usia nikah seperti dalam undang-undang perkawinan, tampaknya perlu direvisi, karena sudah tidak relevan lagi untuk masa sekarang. Dulu, perkiraan usia nikah 16 tahun bagi anak perempuan mungkin selepas SMP. Sementara sekarang, kesempatan anak bersekolah waktunya lebih panjang, bahkan lanjut sekolah setelah lulus SMA. Itu dilihat dari sudut pandang pendidikan. Lantas, bagaimana jika dilihat dari sudut pandang pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan?

             Pernikahan di usia muda tergolong rentan. Karena di usia remaja ini mereka masih mengalami pertumbuhan yang belum selesai. Jadi, remaja masih membutuhkan asupan energi yang optimal untuk pertumbuhannya. Belum lagi organ-organ reproduksi remaja putri belum sepenuhnya sempurna. Begitupun dengan masalah psikisnya yang masih belum stabil dan matang. Secara pendidikan dan keterampilan yang dimiliki juga masih minim dan terbatas untuk mereka dapat berpenghasilan.

              Jadi, jika remaja putri menikah di usia muda dan hamil, maka dari segi kebutuhan gizinya ia akan bersaing dengan janin yang dikandungnya. Ibu masih memerlukan zat gizi utuk pertumbuhannya sementara janin dalam kandungan juga memerlukan zat gizi untuk tumbuh kembang yang optimal.

              Akibatnya, janin kurang optimal lam memeroleh asupan zat gizi, sehingga berisiko terhambat pertumbuhannya. Selain itu bayi berisiko lahir prematur dengan organ tubuh yang belum matang atau bayi lahir dengan berat badan lahir rendah, mudah sakit. Semua ini bisa menyebabkan risiko stanting.

              Menurut UNICEF dan WHO (2004), wanita yang hamil muda di bawah usia kurang dari 20 tahun, berisiko melahirkan bayi berat badan lahir rendah. Untuk usia kehamilan yang aman adalah usia ibu 20-35 tahun. Pada usia ini ibu sudah tidak dalam masa pertumbuhan, organ reproduksinya sudah siap sehingga dapat terhindar dari risiko komplikasi saat hamil dan melahirkan. Secara mental sudah dianggap stabil dan matang. Kematangan emosi ini sangat berperan dalam pola pengasuhan anak nantinya. Secara ekonomi, jika dilihat dari tingkat pendidikan lebih tinggi dan keterampilan yang dimiliki, memungkinkan ibu dapat memeroleh penghasilan yang lebih baik/tinggi. Hal ini akan berdampak pada kehidupan ekonomi keluarga  nantinya.

          Jadi, untuk memperoleh anak sehat fisik dan mental, cerdas, serta terbebas dari stanting, ibu sudah harus mempersiapkannya sejak remaja dan ketika  menikah di usia yang cukup matang.

 

 5 Cara Atasi Masalah Gizi Remaja

5 Cara Atasi Masalah Gizi Remaja

  Sehat Keluargaku, Cegah Stunting

  Sehat Keluargaku, Cegah Stunting